Postingan pertama tentang cinta pertama


Namaku Odd. Tentu saja itu bukan nama sebenarnya. Mana mungkin orang Indonesia menamai anaknya seaneh itu. Aku hanya tidak mau orang tahu identitasku. Aku memilih nama ini karena terdengar keren.

Ini adalah postingan pertamaku di blog ini. Aku menulis blog ini untuk mengisi waktu luangku karena saat ini aku baru saja menyelesaikan ujian nasional. Yang artinya, tidak ada lagi sekolah setelah itu. Semuanya menjadi membosankan berada di rumah tanpa kegiatan. Dulu aku menginginkan sekolah seger berakhir. Tapi ketika hari itu datang, aku malah kesepian. Tak ada teman yang bisa diajak bicara. Jadi aku memutuskan untuk menulis.



Pada bagian ini saya akan menceritakan kisah cinta pertamaku. Aku ingat saat pertama kali mengenal cinta. Saat itu aku masih duduk di kelas 6 sd. Usia yang sangat muda sekali. Masa-masa pubertas. Masa di mana seseorang mulai memiliki ketertarikan kepada lawan jenis.

Saat itu aku berdiri di depan pintu kelas. Aku menunggu bel masuk berbunyi. Kulihat di atas meja terdapat kantung kresek berisi beras di atas meja. Itu semua adalah zakat fitrah anak-anak yang dikumpulkan.

Aku ingat dia mengenakan seragam merah putih, sepatu hitam, dan tas hijau dengan gambar hamtaro. Ketika ia lewat di depanku, pandanganku tak terlepas dari dia. Kulihat lelaki termanis yang pernah kulihat. Manis seperti madu. Tentu ini cuma kiasan. Aku tidak pernah menjilatnya. Sebut saja namanya Toni. Lagi-lagi bukan nama sebenarnya. Aku tidak ingat dari mana aku tahu nama bocah itu. Aku tidak pernah berkenalan. Saat itu dia masih duduk di kelas 1. Itu  adalah hari pertamanya di sekolah.

Sejak pertama bertemu, aku sudah jatuh cinta. Selalu kupikirkan wajahnya setiap hari. Aku selalu berangkat ke sekolah dengan hati bahagia, berharap bisa melihat wajahnya. Walau pada kenyataannya, aku tidak berani terlalu dekat dengan dia. Karena aku terlalu gugup. Jantungku berdetak keras. Wajahku memerah. Tanganku bergetar.  Aku selalu menjaga jarak dengan dia. Hanya melihatnya dari jauh.

Saat itu aku tidak pernah bilang pada siapa pun. Aku menyimpan perasaan ini sendiri. Ini adalah rahasia kecil. Aku merahasiakannya karena dia adalah seorang laki-laki. Dan aku juga. Aku tidak mau kehilangan teman hanya karena mereka tahu temannya ini seorang homoseksual. Walau sebenarnya aku tidak punya banyak teman.

Toni adalah anak yang pendiam. Sama sepertiku. Aku selalu memperhatikannya. Dia tidak banyak gerak. Tapi dia punya lebih banyak teman dari aku. Kadang itu membuatku sedikit cemburu. Tidak ada yang bisa kuperbuat. Jatuh cinta bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tapi beda ceritanya kalau kamu sedah tahu, kamu tidak akan mendapatkan orang yang kamu cintai. Saat itu aku percaya, jatuh cinta dengan seorang laki-laki adalah perbuatan yang salah. Tapi aku tidak tahu apa yang membuatku jatuh cinta dengan dia. Apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan Toni? Aku selalu memikirkannya. Dia selalu muncul di mimpi basahku.

Aku selalu mendapat rangking 1 atau 2 di sekolah. Tetapi aku masih mengikuti bimbingan belajar di rumah tetangga yang letaknya tak jauh dari rumah. Aku mengayuh sepedaku untuk sampai di sana. Seperti yang kamu duga, Toni juga belajar di sana. Awalnya aku sangat deg-degan melihat dia ada di sana. Tapi setelah beberapa minggu kami belajar di ruangan yang sama, aku makin terbias.  Bahkan aku pernah menjahilinya saat dia duduk bersama teman-temannya. Aku mengambil sandalnya. Dia memanggilku ‘Mas’. Bahkan dia tahu namaku. Kadang dia sok akrab denganku. Aku mengabaikannya.
Aku lulus SD dan meneruskan pendidikan di SMP. Aku tahu aku tidak akan bertemu Toni lagi di sekolah. Mungkin aku bisa menjadi normal dengan meninggalkannya. Aku mencoba untuk melupakannya. Kadang berhasil. Kadang aku merindukan wajah manisnya itu. Aku pernah mengambil fotonya dari sepeda. Kupandangi foto itu ketika aku melakukan onani. Tapi foto itu sudah hilang. Aku tak sengaja menghapusnya. Mungkin aku benar-benar harus melupakannya.

Teman-temanku di SMP menyebutku orang aneh, pendiam, dan suka menyendiri. Aku tidak lagi mendapat juara kelas. Jangankan ranking 1 atau 2, sepuluh besar pun aku tak dapat. Jangan naif. Itu semua bukan karena aku terpisah dari Toni. Itu terjadi karena aku duduk di bangku kelas favorit. Kelas di mana siswa-siswanya adalah siswa pilihan. Tidak semua anak bisa duduk di kelas ini.

Selama aku duduk di bangku SMP, jarang sekali aku melihat Toni. Bahkan aku sudah mulai bisa melupakannya. Sedikit. Pernah pada suatu hari, aku bersepeda melewat depan rumahnya. Tak kusangka, aku melihat Toni di sana. Yang kulakukan adalah mengeluarkan jurus pura-pura tidak liat. Dia menyapaku. Memanggil namaku. Setelah sekian lama tak bertemu, dia masih ingat dengan namaku. Gila! Bayangkan betapa bahagianya aku pada saat itu. Aku hanya menoleh, lalu tersenyum ke arahnya. Ia membalas senyumku. Semenjak saat itu, aku tidak melihatnya lagi. Setidaknya jarang sekali.

Sampai ketika aku lulus SMP dan melanjukan ke SMK. Mungkin saat itu aku benar-benar melupakannya. Ketika aku memasuki sekolah baru, aku bertemu dengan teman-teman yang baru. Mereka berbeda dengan teman yang aku kenal di SMP. Mereka lebih beragam. Aku lebih akrab dengan teman-teman baruku. Mereka lebih asik dan menyenangkan. Sampai aku bisa melupakan Tony. Bahkan mungkin saat itu aku lupa dengan wajahnya.
Sampai suatu hari, salah satu temanku, sebut saja Dina, teman yang cukup akrab dan suka berbicara mengaku bahwa dirinya adalah seorang fujoshi. Sebenarnya aku idak tahu apa fujoshi itu. Awalnya aku meminjam hapenya. Kulihat di sana ada banyak gambar yaoi. Gambar laki-laki bermesraan dengan laki-laki lainnya. Aku kaget dong! Untuk apa dia menyimpan gambar seperti ini. Tanpa ragu kutanyakan padanya. “Apa kamu suka yaoi?”

“Namanya Fujoshi” katanya.

“Apa itu?”

“Cewek-cewek yang suka yaoi”

Aku heran. Kok ada orang seperti itu. Sebelumnya aku pernah tanya pada Dina apakah dia seorang pendukung LGBT. Pasalnya ia sering berbicara tentang itu. Jawabnya simpel. “Aku bukan pendukung, juga bukan anti. Netral”. Tapi setelah kutemukan gambar itu, ia terus terang bahwa ia adalah pendukung.

Entah mengapa, aku jadi ingin bilang ke dia bahwa aku adalah seorang gay. Mungkn jangan. Akhirnya aku bilang padanya bahwa aku adalah seorang biseksual. Saat itu aku berfikir gay terlalu hina. Ia sedikit kaget. Tapi tidak lebay. Sebagai orang pertama dan satu-satunya yang tahu aku gay, dia sangat pandai menjaga rahasia. Dia juga mengenalkanku pada Nina, fujoshi kelas sebelah. Dia sangat baik. Kuritakan semua tentang Toni padanya.

Komentar